BIZTALK #4: Building Start-Up Brand with Good PR

5c7a21b9-07af-4900-8303-2328ce1bf050-1-768x576

Beberapa start-up, pada umumnya tidak memiliki bagian public relation di tahun pertama beroperasi. Di lain sisi, peran kehumasan ini sangatlah penting untuk menciptakan kesan baik di hadapan masyarakat ketika start-up tersebut diluncurkan. Ini yang menuntut para founder dan co-founder pelaku bisnis rintisan harus dapat berkreasi agar dapat mengambil hati masyarakat luas, untuk dapat mengenal dan menggunakan produknya.

Untuk itu, BIZTALK yang diadakan oleh ADITIF di JDV kali ini mengambil tema “Building Start-Up Brand through Good PR” dengan pembicara Andreas Simorangkir dari PRecious Communication.

Hal tersebut disampaikan oleh Andreas Simorangkir, Senior Strategy Manager Digital Channel, PRecious Communication dalam “BIZTALK: Building Start-up Brand through Good PR”, Jumat 28 Oktober 2016 lalu. PRecious Communication merupakan konsultan public relation ternama di Singapura, yang sudah berpengalaman untuk menangani start-up besar baik di Singapura maupun negara-negara Asia Tenggara lainnya.

“Inti dari membangun brand adalah kreatifitas yang orisinil. Dan kreatifitas tersebut, tidak akan terkonversi menjadi sebuah brand publicity tanpa adanya eksekusi yang baik. Oleh karena itu, start-up harus mempersiapkan dengan perencanaan yang matang, agar dapat meraih atensi masyarakat, khususnya segmen penggunanya.” ujar Adreas. Beberapa start-upterkadang tidak mempersiapkan ini, sehingga ketika sudah launch, tidak banyak mendapatkan atensi para pelanggan, dan berakhir dengan kegagalan.

Tidak hanya ketika launching, start-up juga harus memperhatikan brand mereka ketika operasional sedang berjalan. Apabila salah langkah, reputasi brand mereka mendapatkan sentimen negatif dari masyarakat, yang akan berpengaruh terhadap penjualan. Kasus ini juga banyak ditemui oleh perusahaan yang pada umumnya sudah matang dan malas berkreasi, sehingga banyak meng-copy ide iklan dari luar. Bukan menjadi hal yang menarik pelanggan, menduplikasi ide iklan dan menggantinya dengan brand mereka, menjadikan bisnis mendapatkan sentimen negatif dari masyarakat.

Personal brand dari founder dan co-founder juga menjadi hal yang substansial bagi para pelaku bisnis start-up. Hal ini menyangkut pada kepercayaan pengguna, baik dari investor maupun pelanggan. Sentimen brand bisa menjadi negatif apabila pimpinan atau founder dari perusahaannya melakukan hal yang dinilai negatif oleh masyarakat. Terlebih budaya yang ada di Indonesia, dimana word of mouth masih menjadi jawara dalam membangun brand dan publisitas. Hal ini juga perlu diperhatikan oleh para pelaku bisnis.

Acara yang dihadiri oleh 40 orang founder dan co-founder digital start-up business dari Yogyakarta dan Surakarta ini berlangsung meriah. Beberapa start-up seperti Mamikos, JAKPAT, Chalkboard, Sepetak, dan SatuLoket, turut memeriahkan acara ini. Di akhir acara, PRecious Communication membuka sesi konsultasi untuk para pelaku start-up.

Bimtek BEKRAF Hari Kedua : Paten Merek, Desain Industri, dan Badan Hukum

Hari kedua acara workshop Bimtek Kemahiran Berkontrak Bagi Para Pelaku Ekonomi Kreatif Bidang Digital Kreatif dimulai setelah para peserta selesai sarapan di The Alana Hotel & Convention Center.

cam_0136

cam_0160

Pukul 09.30 acara dimulai dengan Dr.Ir.Robinson Sinaga, S.H, LL.M yang kembali lagi menjadi pembicara melanjutkan materi hari sebelumnya. Masih dengan tema yang sama yaitu tentang Hak Kekayaan Intelektual (HKI), Bapak Robinson kali ini lebih menekankan materinya tentang cara mendaftarkan merek, desain industri, dan juga hak paten produk. Ada hal unik tentang pendaftaran merek menurut beliau,

robinson1

“Sebaiknya merk yang didaftarkan itu ada tiga, yaitu nama merek, logo, serta nama merek yang disertai logo”.

Ditambahkan lagi oleh Bapak Robinson

“Jangan membuat merek yang membingunkan masyarakat, misal saja memodifikasi nama merek yang sudah ada, karena meskipun berhasil mendaftarkan merek tersebut namun nantinya akan membuat masyarakat banyak bingung dengan produk yang mirip”.

cam_0151

Selain itu, dengan memiliki hak cipta atas inovasi yang dihasilkan, para inventor juga akan mendapatkan nilai lebih di mata calon partner atau investor. Dalam pemaparannya, Robinson Sinaga beberapa kali menekankan supaya para inovator untuk segera mendaftarkan temuannya. Hal ini dikarenakan sifat hukumnya adalah first-to-file, yaitu mereka yang terlebih dahulu mencatatkan temuannya adalah yang berhak. Sebelum menuju ke sesi selanjutnya , peserta diajak menyantap makan siang terlebih dahulu.

cam_0154

cam_0156

 

Sesi selanjutnya yang merupakan sesi terakhir dalam workshop hari ini, dimulai setelah para peserta selesai makan sing. Pembicara di sesi terakhir ini adalah Mayang Markamah, S.H., M.Kn yang merupakan Notaris-PPAT di area Kabupaten Sleman,Yogyakarta . Sesi ini para peserta mendapatkan materi bagaimana cara dan syarat apa saja yang dibutuhkan untuk suatu startup atau usaha digital kreatif lainnya memiliki badan hukum tertentu seperti misalnya Perseroan Terbatas (PT). Sesi ini juga menjadi sangat interaktif karena peserta dipersilahkan untuk konsultasi tentang pengurusan PT ini. Di akhir sesi beliau mengatakan,

cam_0173

 

 

“Banyak startup yang belum memiliki badan hukum karena takut dan malas mengurusnya. Jangan takut untuk mengurusnya, karena nantinya itu akan memudahkan usaha anda”.

Di akhir acara, Ketua ADITIF, Saga Iqranegara mengemukakan gagasan diadakannya Bimtek ini.  Karena kurangnya perhatian para pelaku usaha di digital kreatif mengenai masalah legal, diharapkan dengan diselenggarakannya kegiatan Bimtek ini, para pelaku usaha digital kreatif bisa mendapat pemahaman lebih agar bisa dan mau mengurus segala bentuk legal kontrak usahanya. Demikianlah workshop Bimtek Kemahiran Berkontrak Bagi Para Pelaku Ekonomi Kreatif Bidang Digital Kreatif yang dilangsukan selama 2 hari atas kerja sama Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dengan Asosiasi Digital Kreatif (ADITIF).

Antusiasme peserta Bimtek dua hari ini sangat terlihat. Dari survey kepuasan yang dilakukan oleh penyelenggara sebagian peserta merasa puas dan ingin merekomendasikan acara ini kepada rekan-rekannya. Banyak peserta yang mengatakan bahwa Bimtek ini memberi wawasan dan pengetahuan baru tentang legal untuk industri kreatif secara teori dan praktik, dan memperluas jejaring dengan sesama peserta. Dukungan ADITIF dalam acara Bimtek BEKRAF ini adalah wujud komitmen aditif untuk memberi benefit bagi anggotanya.

img-20161018-wa0006

Berikut adalah kesan yang kami tangkap dari peserta acara Bimtek kali ini.

“Sangat bermanfaat , menambah pengetahuan dan semangat para usahawan untuk melegalkan usaha.”

“Acara yang sangat memberikan awareness kepada pelaku startup untuk lebih mengetahui hal-hal apa saja yang harus dipersiapkan untuk melakukan kontrak atau kerjasama dengan pihak lain. Juga ada tentang HKI yang sangat penting untuk melindungi hak intelektual produk para pelaku startup digital.”

Bimtek BEKRAF – ADITIF Hari 1: Tentang Kontrak, Lisensi, Paten dan Hak Kekayaan Intelektual

Hari Pertama : Bimtek Kemahiran Berkontrak Bagi Para Pelaku Ekonomi Kreatif Bidang Digital Kreatif

bekraf-day-1

Selamat datang di BIMTEK BEKRAF – ADITIF

Acara Bimtek Kemahiran Berkontrak Bagi Para Pelaku Ekonomi Kreatif Bidang Digital Kreatif merupakan acara yang diselenggarakan hasil kerja sama Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (BEKRAF) dengan Asosiasi Digital Kreatif (ADITIF). Acara yang berlangsung selama 2 hari selama tanggal 17-18 Oktober 2016 dan bertempat di The Alana Hotel & Convention Center, Yogyakarta ini bertujuan agar para pelaku usaha ekonomi kreatif khususnya di bidang digital kreatif dapat mengetahui mengenai detail tentang pengurusan legal dan hak cipta kekayaan intelektual.

Berlangsung selama 2 hari full day, acara ini terbagi dalam beberapa sesi dengan menghadirkan pembicara ahli di bidang legal kontrak dan hak kekayaan intelektual.

suasana-bimtek-day-1

Suasana Bimtek Hari Pertama, The Alana Hotel & Convention Center, Yogyakarta

Sesi pertama pada Senin 17 Oktober 2016 dimulai dengan pembahasan tentang legal kontrak. Materi dibawakan oleh dosen dari Universitas Trisakti yaitu Anda Setiawati,SH. MH. Pada sesi ini dijelaskan bagaimana pembuatan legal kontrak yang sesuai dengan hukum.

Sesi kedua dilanjutkan dengan pemahaman mengenai Perjanjian Lisensi/Lisensi Agreement  yang dibawakan oleh Rakhmita Desmayanti, SH. MH. dari Universitas Trisakti. Pembahasan sesi ini menjelaskan mengenai izin yang diberikan oleh Pemegang Paten kepada pihak lain berdasarkan perjanjian pemberian hak untuk menikmati manfaat ekonomi dari suatu Paten yang diberikan perlindungan dalam jangka waktu dan syarat tertentu.

sesi-1-aditif

Sesi Pertama dan Kedua dari Pakar Hukum Universitas Trisakti

Setelah sesi kedua, peserta diajak menyantap hidangan makan siang bersama yang telah disajikan oleh Hotel Alana.

photo_2016-10-17_19-17-32

Setelah makan siang, acara dilanjutkan oleh Dr.Ir.Robinson Sinaga, S.H, LL.M selaku Direktur Fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Sesi ini cukup menyita pertanyaan banyak peserta karena berhubungan langsung dengan pelaku usaha digital kreatif.

Dr.Ir.Robinson Sinaga, S.H, LL.M ,Direktur Fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) BEKRAF

“Hak cipta tidak melindungi ide, jika ide tidak dieksekusi dan ada yang lebih dahulu mengeksekusi ide tersebut, kita tidak dapat menuntutnya. Jadi segeralah eksekusi ide tersebut” – Dr.Ir.Robinson Sinaga, S.H, LL.M,  Direktur Fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI)

Sesi terakhir pada hari pertama ini ditutup oleh CEO buatkontrak.com, Rieke Caroline, SH dan Andhika Adam Pradana sebagai advokat dan pakar hukum di bidang legal kontrak. yang lebih mendetail membahas tentang pentingnya kontrak untuk para pelaku usaha ekonomi kreatif digital sebagai landasan hukum utama dan kontrak-kontrak apa saja yang diperlukan untuk UKM/industri kreatif.

Fyi, Mbak Rieke Caroline,SH ini notabene adalah News Anchor kece dari salah satu stasiun televisi ternama lhoh!

sesi-3-aditif

CEO buatkontrak.com, Rieke Caroline, SH ( Kanan) dan Andhika Adam Pradana (Kiri)

“Jangan takut untuk menanyakan detail kontrak anda, karena kontrak ini adalah senjata legalitas anda” – CEO buatkontrak.com

Hari pertama acara Bimtek berlangsung menarik, banyak sekali pertanyaan dari peserta di tiap sesinya sampai sesi tanya-jawabnya selalu kehabisan waktu. Ada banyak hal yang menjadi pengetahuan baru sebagai bekal bagi para pelaku usaha kreatif untuk menjalankan usahanya secara legal sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia.  Berikut kesan para peserta terhadap Bimtek Hari pertama ini :

Memberikan pencerahan bagi usaha di bidang start up digital” Ajeng , Marketing IWAK

Acaranya menarik. Karena menjawab permasalahan legal di start-up saya” Akbar, Satuloket.com

Foto bareng peserta BIMTEK BEKRAF ADITIF

Serunya foto bareng peserta BIMTEK BEKRAF ADITIF di akhir acara

Foto bareng peserta BIMTEK BEKRAF ADITIF

Semangat hari pertama BIMTEK BEKRAF ADITIF!

BIZTALK #3: B2B Customer Segment with RUNSystem

25c1b677-f436-4826-9c2c-f5084e705ce0

Mengusung topik B2B Customer Segment Survival Guide, kegiatan ini dipandu oleh Mas Sony Rachmadi selaku CEO dari RUN System sebagai narasumber. Berbekal pengalamannya di dunia bisnis digital,  Mas Sony yang kebetulan juga merupakan contoh sukses dari tenant binaan Telkom melalui ajang Indigo ini memberikan berbagai tips dan trik yang sangat berguna bagi para peserta.  Tips dan trik yang diberikan terkait panduan dalam melakukan tipe usaha business to business tersebut berdasarkan pengalaman yang telah dijalani oleh Mas Sony selama kurang lebih 12 tahun terjun di dunia bisnis. Berbagai tambahan pengetahuan terkait how to control cash flow dan how to handle your  customer menjadi topik yang ramai dipertanyakan oleh para peserta yang turut serta dalam kegiatan ini.

BIZTALK #3: B2B Customer Segment Survival Guide diadakan di JDV, 10 September 2017

BIZTALK #2: Growth Hacking

P_20160527_205514

Start-Up biasanya memiliki keterbatasan dalam memasarkan produknya kepada masyarakat. Oleh karena itu, butuh teknik dan sistem yang terancang dengan baik, agar produknya dapat banyak dikenal oleh masyarakat.

Pada BIZTALK #2 ini, dibahas mengenai bagaimana mendapatkan perhatian pelanggan dari dua sudut pandang. Sudut pandang yang pertama adalah dari Fajar (Sinteniki.com), dimana teknik terbaik untuk mendapatkan perhatian netizen adalah melalui Good SEO. Para pemilik bisnis start-up hendaknya membuat tagline dan brand yang mudah disearching oleh sistem Google. Di sisi lain, Anggit Tut Pinilih (CEO JAKPAT) menyampaikan bagaimana meraih banyak perhatian pelanggan melalui partnership. Semakin banyak kita berpartner, semakin banyak juga produk diken

Hasil Pertemuan Tim Formatur ADITIF dengan Gubernur D.I. Yogyakarta

IMG_20150812_111802_HDR

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa Tim Formatur ADITIF diundang oleh Pemerintah Provinsi D.I. Yogyakarta. Pertemuan ini diselenggarakan pada hari Rabu, 12 Agustus 2015 di Komplek Kepatihan. ADITIF bukan satu-satunya pihak yang diundang dalam pertemuan ini, Jogja Creative Association (JCA), ditributor aplikasi, dan perwakilan UGM juga turut hadir.

Dari pihak Pemerintah Provinsi D.I. Yogyakarta hadir beliau Bapak Gubernur dan beberapa Kepala Dinas. Acara yang berlangsung selama dua jam ini sekaligus menjadi ajang silaturahim antara pemerintah daerah dengan pelaku industri TI di Yogyakarta.

IMG_20150812_110433_HDR

Dalam pembukaannya, Bapak Gubernur menekankan bahwa Pemerintah Provinsi D.I. Yogyakarta sangat mendukung industri digital kreatif di Yogyakarta. Hal ini dibuktikan dengan diselenggarakannya Digital Goverment Services sebagai bagian Jogja Cyber Province. Melalui pertemuan ini, beliau sangat mengharapkan masukan dan saran dari pelaku industri untuk dapat menjadikan Jogja sebagai pusat industri digital.

Tim Formatur ADITIF hadir dalam pertemuan ini dengan membawa aspirasi yang kami kumpulkan dari seluruh anggota. Aspirasi yang masuk kami rangkum menjadi beberapa poin berikut ini:

  • Tersedianya Perijinan dan Birokrasi Satu Atap
  • Tersedianya Ruang Usaha yang Memenuhi Standar ICT
  • Tersedianya Infrastruktur Pendukung Lainnya yang Dapat Diandalkan
  • Menyelenggarakan Kegiatan Promosi untuk Produk IT
  • Akses & Dukungan ke Sumber Permodalan
  • Membangun Balai Pelatihan Tenaga Terampil TI

Pemerintah Provinsi D.I. Yogyakarta menyambut baik usulan-usulan tersebut. Salah satu respon yang dilontarkan oleh Bapak Gubernur adalah dengan memanfaatkan salah satu bangunan cagar budaya (BCB) sebagai pusat kegiatan inkubasi bisnis dan co-working space. Tindak lanjut dari respon tersebut akan dibicarakan dalam pertemuan berikutnya.

ADITIF sebagai asosiasi yang menaruh perhatian pada pembangunan ekosistem bisnis digital di Tanah Air sangat mendukung forum komunikasi seperti ini. Kami akan mengabarkan perkembangan selanjutnya.

Aspirasi Industri Kreatif Digital untuk Pemerintah Provinsi D.I. Yogyakarta

tugutempodulu_thumb3

Tim Formatur ADITIF mendapatkan kesempatan yang sangat berharga untuk bertemu dengan Pemerintah Provinsi D.I. Yogyakarta dalam waktu dekat ini. Sesuai dengan visi dan misi ADITIF untuk mengembangkan ekosistem industri kreatif digital di Indonesia, pemerintah (pusat maupun daerah) memegang peranan cukup penting untuk mewujudkan ekosistem industri yang sehat.

Oleh karena itu, ADITIF merasa perlu untuk menggali aspirasi, masukan, usulan, dan kritikan yang membangun dari para pelaku industri kreatif digital, terutama yang berada di Yogyakarta, untuk kemudian akan kami sampaikan kepada Gubernur D.I. Yogyakarta dan jajarannya.

Berikut ini formulir aspirasi yang bisa anda lengkapi.


[form aspirasi telah ditutup]


Hasil dari pertemuan tersebut akan kami update melalui blog ini.

Establishment of Asosiasi Digital Kreatif ADITIF

deklarasi-Aditif-05

On June 15th, 2015, ADITIF finally declared its establishment by the end of the Lunch gathering aimed at the Foundational Declaration of Digital Creative Association (ADITIF – Asosiasi Digital Kreatif). Responding to the invitation from ADITIF Formateur Team, 70 attendants from digital creative companies and start-ups, government institutions, academics, and press gave their full support to the establishment of this association.

deklarasi-Aditif-03

The host officially opened the event at 12.30, followed by the talk shows from the sponsors: Solusi247, MALIOME, and PT Gameloft Indonesia.

deklarasi-Aditif-06

The first Talk Show – moderated by Evan Purnama (Qiscus) – presented the representative of Solusi247: Arief Dolants. Arief has 7 years experience of working as developer and system analyst. Before his current position as Site Coordinator of Solusi247 Yogyakarta, Arief has spent 5 years working at Solusi247 Jakarta, where the headquarter is located. In the beginning of the Talk Show, Arief shared some information about Solusi247 and its business’ scope. Regarding the establishment of ADITIF, he firmly stated that Solusi247 would gladly be a part of ADITIF, to actively involved in ADITIF’s events and agenda.

deklarasi-Aditif-08

The second Talk Show was moderated by Pranowo Putro (Tonjoo). As a guest, Irwan Kartadipura (MALIOME Hackerspace) shared his experience of being a start-up. As stated at the Talk Show, ADITIF’s existence would offer a great help for the development of digital creative industry in Indonesia. Irwan spoke as the founder of MALIOME Hackerspace and also IndoCPA – the first affilliate network in Indonesia.

deklarasi-Aditif-02

The final Talk Show presented Andrei Lascu, the Studio Manager of PT Gameloft Indonesia. Moderated by Anggit Tut Pinilih, this session revealed the big picture of PT Gameloft Indonesia and the reason of why Yogyakarta was chosen to build the studios in – which was mainly induced by the favorable recruiting ground. For Gameloft, the establishment of ADITIF was a realization of its hope. The support from government, universities, and communities toward digital creative business has been growing. That is why, the association uniting all digital creative entities is sorely needed to smoothen the communication between digital creative companies or start-ups and authorities.

To cover up the Talk Shows, a guest from Fenox shared some words about the great potential of digital creative business and the position of Fenox in this area of business. His statement strengthened ADITIF’s will to play its role in the development of digital creative business.

deklarasi-Aditif-07

Heading to the main event, Saga Iqranegara led the audience to declare their commitment and involvement in Digital Creative Association (ADITIF – Asosiasi Digital Kreatif). By the end of the ceremonial, ADITIF was officially established, bringing together 34 digital creative companies and start-ups.

deklarasi-Aditif-09

Asosiasi Digital Kreatif (ADITIF – Digital Creative Association) is an association of digital-based creative industries in Indonesia. The vision of ADITIF is to increase the competitive advantage of digital creative industry in Indonesia, with its initial focus in Yogyakarta. This association was initiated by the start-ups in Yogyakarta, which also acted as the Formateur Team of ADITIF: Saga Iqranegara from Loops, Indra Haryadi from Dojo-Box, Sony Rachmadi Purnomo from Run System, Budi Raharjo Santoso from TripCribs, Istofani Api Diany from Fitinline, Kenniko Okta Putra from Tech Grids, and Rizal Sipayung from Warung Rakyat.

deklarasi-Aditif-04

deklarasi-Aditif-01

DEKLARASI ADITIF

Pada tanggal 15 Juni 2015, perwakilan berbagai perusahaan kreatif digital Yogyakarta, pemerintah, tenaga pendidik, penerbit, dan pers akan melaksanakan pertemuan di Dixie Easy Dining, untuk menyepakati Deklarasi Pembentukan Asosiasi Digital Kreatif (ADITIF). Agenda yang akan dilaksanakan adalah Talk Show oleh sponsor dan Deklarasi ADITIF.

Asosiasi Digital Kreatif (ADITIF – Digital Creative Association) adalah asosiasi yang mewadahi pelaku industri kreatif berbasis digital di Indonesia. Visi ADITIF adalah untuk meningkatkan daya saing industri kreatif digital Indonesia, dimulai dari lingkup Yogyakarta. Asosiasi ini adalah hasil inisiatif beberapa pelaku start-up di Yogyakarta, yaitu: Saga Iqranegara dari Loops, Indra Haryadi dari Dojo-Box, Sony Rachmadi Purnomo dari Run System, Budi Raharjo Santoso dari TripCribs, Istofani Api Diany dari Fitinline, Kenniko Okta Putra dari Tech Grids, dan Rizal Sipayung dari Warung Rakyat. Tujuh orang tersebut berperan sebagai Tim Formatur Pembentukan ADITIF.

Sebagai bentuk dukungan pada deklarasi ADITIF, PT Gameloft Indonesia (Yogyakarta), Solusi247 (Jakarta), dan MALIOME Hackerspace (Yogyakarta) memastikan keterlibatan dalam asosiasi ini dan dalam acara deklarasi yang akan dilangsungkan. Perusahaan-perusahaan tersebut telah berperanserta dalam pengembangan industri kreatif Indonesia melalui produk dan pelayanannya kepada masyarakat. Untuk mengukuhkan komitmennya terhadap deklarasi ini, perwakilan dari ketiga perusahaan tersebut akan menghadiri acara deklarasi dan tampil dalam Talk Show.

Gameloft® merupakan perusahaan pengembang game digital dan sosial yang telah membuktikan dirinya sebagai salah satu inovator terbaik di bidangnya semenjak tahun 2000. PT Gameloft Indonesia didirikan pada tahun 2010 dan hingga saat ini telah mempekerjakan kurang lebih 600 staf di Yogyakarta, kota yang dihuni oleh sekitar 500.000 jiwa. PT Gameloft Indonesia telah berhasil mencapai setiap target dalam menghasilkan berbagai game papan atas di tengah tuntutan pasar dunia yang semakin tinggi. Pencapaian tersebut merupakan bukti dari keahlian talenta-talenta yang dimiliki Gameloft di kota ini. PT Gameloft Indonesia menetapkan standar tinggi dalam perekrutan sumber daya manusia yang unggul, bakat-bakat yang dinamis dan adaptif terhadap industri yang bergerak sangat cepat. Dan Yogyakarta menyediakan sumber daya yang melimpah dengan kurang lebih 83 kampus, dimana 25% di antaranya merupakan Jurusan Teknik Informatika. Sebagai bagian dari komponen yang tidak terpisahkan dari Yogyakarta, PT Gameloft Indonesia sebagai perusahaan IT terbesar di Yogyakarta mengembangkan perannya sebagai pusat Teknologi Informasi dalam rangka dukungan terhadap rencana Sri Sultan HB X untuk mengembangkan Yogyakarta sebagai hub dari industri ICT di Indonesia. Informasi lebih detail mengenai Gameloft® dapat diperoleh dari www.gameloft.com.

PT Dua Empat Tujuh (SOLUSI247) merupakan perusahaan ICT (Information Communication Technology) di Indonesia yang berfokus pada pemrosesan Big Data dan komponen elektronik teknologi tinggi. Hadir sejak tahun 2000, PT Dua Empat Tujuh telah berpengalaman menangani data yang sangat besar di industri telekomunikasi. PT Dua Empat Tujuh memiliki 3 area bisnis yaitu Information Technology (IT) Solution, High-Tech Solution, dan Hybrid Solution. Pada area Big Data, PT Dua Empat Tujuh memiliki produk pengolahan data yaitu H-Grid247 untuk batch processing, S-Grid247 untuk real time processing, dan H-Spark247 untuk in-memory processing. Pada area High Tech, PT Dua Empat Tujuh berhasil membuat radar pertama buatan Indonesia dengan komponen lokal yang besar. Saat ini radar yang dihasilkan telah diimplementasikan di beberapa kapal perang Republik Indonesia. Pada area Hybrid, PT Dua Empat Tujuh mengembangkan sistem pengawasan perairan yang berguna bagi keselamatan dan navigasi di perairan. PT Dua Empat Tujuh memiliki kantor pusat di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan dan kantor cabang di Yogyakarta, Surabaya, dan Eindhoven, Belanda. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.solusi247.com.

MALIOME Digital Indonesia adalah perusahaan internet marketing dan induk dari beberapa start-up digital, berkedudukan di Indonesia dan Singapura. Diantaranya mengoperasikan MALIOME Hackerspace, tempat dimana start-up lain berkantor, seperti NGONOO.com, Listeno, IDWinPhone, Mobiggr, Pilamo, Addotta, dan Ehloo.com. MALIOME mendukung perkembangan start-up dan bisnis kreatif di Yogyakarta dengan menyediakan tempat beraktivitas beserta fasilitasnya, mengadakan event start-up dan memberikan seed funding bagi start-up baru sebagai dana hibah.