ADITIF Mendukung Blockchain Cryptocurrency Talks & Networking (BCTN 1.0 Akar)

Asosiasi Digital Kreatif Indonesia (ADITIF) yang merupakan Asosiasi yang mewadahi pelaku industri kreatif berbasis digital, perusahaan teknologi, dan perusahaan rintisan (startup) di Indonesia mendukung terselenggaranya Blockchain Cryptocurrency Talks & Networking (BCTN 1.0 Akar) yang diselenggarakan pada tanggal 6-7 Desember 2018 di Sahid Jaya Hotel & Convention.

Dukungan ini diberikan ADITIF sebagai bentuk partisipasi ADITIF dalam mewakili pelaku industri agar ekosistem industri kreatif digital Indonesia dapat terbangun dan berkembang dengan baik. Selain itu ADITIF memiliki harapan bahwa acara yang diinisiasi Hacklab.rocks! dan Nakka ini menjadi wadah pembelajaran teknologi blockchain yang sedang berkembang saat ini.

Melalui kerjasama ini perwakilan anggota aktif ADITIF pun mendapatkan keuntungan berupa undangan sebagai peserta agar dapat ikut berpartisipasi dalam gelaran BCTN 1.0 Akar ini. Selain itu undangan tersebut juga dapat melakukan upgrade agar dapat menikmati sesi VIP dengan fasilitas Networking After Party Session dimana para speaker, sponsors, dan tamu VIP lain akan saling berkenalan dan mengeksplore potensi kolaborasi yang bisa dilakukan bersama.

Selain itu Tamu Undangan juga bisa membeli mengikuti Workshop dengan Tema Blockhain for Biz 101 dan Blockchain for Tech 101. Workshop ini akan dipandu oleh international experts di bidang Blockchain yang didatangkan langsung dari Singapura dan Malaysia.

Informasi detail tentang BCTN1.0-AKAR dan agenda event bisa dilihat di

https://bctn.xyz

Go StartUp Indonesia: wadah startup dan investor

Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Berkraf) bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) telah meluncurkan platform bernama Go StartUp Indonesia (GSI) pada tanggal 6 September 2018 di Jakarta. GSI merupakan platform untuk mempertemukan startup dan investor.

Platform ini merupakan sebuah gerakan yang bertujuan untuk mengakselerasi pertumbuhan ekosistem startup di Indonesia, terutama di bidang ekonomi kreatif. Pembentukan platform ini merupakan dukungan bagi startup untuk mendukung dan mempermudah akses permodalan.

Ekosistem startup ini diterjemahkan menjadi sarana bagi startup untuk dapat meningkatkan kapasitasnya, menemukan bakat ahli teknologi lokal maupun internasional, sebagai akselerator atau inkubator startup, menyediakan coworking space, pendidikan, perusahaan, investor, lembaga, universitas, badan pemerintah dan hal lain yang dapat mendorong berkembangnya startup di Indonesia. Dengan adanya ekosistem yang baik, maka diharapkan Indonesia akan mampu menyatukan, memperkuat, dan membawa startup Indonesia agar dapat berkompetisi secara global dan menjadi pusat startup teknologi di Asia.

Platform yang disediakan oleh GSI adalah sebuah website atau laman di http://v2.gostartupindonesia.id yang didalamnya ada informasi-informasi seperti startup, investor, event, courses, jobs, workspace dan mentors. Diharapkan seluruh startup di Indonesia dapat mendaftarkan diri mereka melalui platform ini.

Making Indonesia 4.0 Startup 2018

 

Pada tanggal 4 April 2018 diresmikan  Agenda nasional yang disebut Making Indonesia 4.0 oleh presiden Republik Indonesia, Joko Widodo.  melalui peresmian tersebut maka dapat dinyatakan Indonesia berancang-ancang untuk bertarung di revolusi industri yang keempat yang merupakan era dimana manusia, mesin, dan data terkoneksi.

Making Indonesia 4.0 ini diharapkan menjadi batu loncatan bagi Indonesia untuk dapat bersaing di bidang manufaktur dengan memanfaatkan teknologi yang berbasis internet. Ada lima sektor manufaktur yang akan digenjot di awal penerapan Making Indonesia 4.0 ini yaitu, makanan dan minuman, otomotif, kimia, elektronik, serta tekstil dan pakaian. Kelima industri tersebut merupakan sektor industri yang menghasilkan produk domestik bruto (PDB) terbesar bagi Indonesia. Dengan didorongnya sektor-sektor industri tersebut, Indonesia diyakini mampu menembus 10 besar elit dunia pada tahun 2030.

Untuk mendukung agenda pemerintah tersebut, Kementrian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin RI) meluncurkan kompetisi bertajuk Making Indonesia 4.0 Startup Competition 2018. Kompetisi yang digagas Kemenperin RI ini bertujuan untuk mewujudkan Indonesia maju di era cyber-physical connection, mendorong tumbuhnya perusahaan digital rintisan (startup) dalam negeri, dan membangun ekosistem inovasi dengan menjembatani antara kebutuhan industry dengan inovasi karya anak banga serta memberikan dukungan kepada startup di bidang teknologi industry 4.0

Kompetisi ini mengajak para startup untuk berinovasi di bidang teknologi yang berkaitan dengan revolusi industri keempat. Bidang teknologi yang ada dalam kompetisi antara lain yaitu, bidang internet of things, robotik, printer 3D, big data analysis, cloud computing, artificial intelligence / machine learning, wearable / Augmented reality / virtual reality, automation. Bagi startup yang tertarik untuk ambil bagian dalam kompetisi ini dapat mengakses https://www.i4startup.id/ .

Monthly Aditif Startup Nite October: The Art of War: Dealing with Competition

Pada Jumat (5/10) pertemuan bulanan Asosiasi Digital Kreatif (Aditif) yaitu Aditif Startup Nite kembali digelar. Kali ini pertemuan bulanan Aditif ini dihelat di Parsley Resto, Yogyakarta. Bertajuk The Art of War: Dealing with Competition, pertemuan ini menghadirkan dua orang pembicara yaitu Larry Chua, Founder Caption Hospitality dan Akbar Faisal, Co-Founder SatuLoket. Selain dari pembicara hadir pula perwakilan dari start-up anggota Aditif yang hadir dalam diskusi malam itu.

The Art of War tema yang diangkat pada malam itu,  merupakan buku yang ditulis oleh Sun Tzu seorang filsuf dan juga jenderal militer dari Tiongkok, didalamnya dibahas bagaimana strategi untuk mengalahkan lawan. Maka tema yang diangkat untuk Aditif Startup Nite bulan oktober ini membahas bagaimana strategi sebuah start-up untuk bisa berkompetisi dengan startup atau perusahan lain yang memiliki produk atau jasa yang sama.

Larry Chua pada malam itu memaparkan filosofi dan juga prinsip The art of War yang dapat diterapkan dalam dunia bisnis. Bisnis secara prinsip dekat dengan dengan persaingan dan kompetisi sehingga filosofi dan prinsip dari Sun Tzu akan sangat ideal untuk menghadapi situasi bisnis, dalam hal ini start-up untuk bisa menjadi lebih kompetitif.

 

Akbar Faisal dalam kesempatan itu memaparkan pemahaman dari filosofi dan prinsip secara praktis. Hal yang dipaparkan antara lain: cara melihat bisnis yang sedang dijalani, melihat bisnis yang dimiliki oleh kompetitor, melihat peluang yang ada bagi bisnis  yang sedang dijalani, tantangan dan apa saja yang sekarang dihadapi dan akan muncul, kekuatan dan kekurangan dari bisnis yang sedang dijalani, kapan seorang pebisnis dapat menentukan waktu yang tepat untuk terjun dalam kompetisi, menyerang atau bertahan, dan kapan waktu yang paling tepat bagi seorang pebisnis untuk mempersiapkan strategi agar bisnis yang dijalani dapat berkembang.

Para audience yang hadir pada malam itu tampak antusias dengan materi yang dipaparkan oleh kedua pembicara pada malam itu. Terutama pada hal bagaimana menerapkan strategi-strategi yang ada untuk mengembangkan bisnis yang sedang dijalani. Langkah-langkah konkrit apa yang bisa dilakukan, dasar-dasar apa yang harus dipelajari sehingga tidak ada lagi ada paradigma instan yang menghantui start-up.

 

 

Be unpredictable, look great when you weak, look weak when you great.

Move swift as a wind and closely formed as the wood. Attack like the fire and be still as the mountain.

Let Your Plans be Dark as dark as night, move like thunderbolt.

 

 

 

 

Aditif Forum: Yogyakarta dan Potensinya di Era Digital

Pada hari Kamis (27/9) di ruang meeting Sahid Jwalk, Asosiasi Digital Kreatif (Aditif) bekerjasama dengan Badan Kerjasama Penanaman Modal (BKPM) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kementrian Perindustrian Republik Indonesia (Kemenperin RI) mengadakan acara bertajuk Aditif Forum. Forum ini bertujuan menjadi wadah diskusi antar pelaku industri kreatif di Yogyakarta, terutama yang tergabung dalam Aditif tentang berbagai isu yang menjadi perhatian pelaku indusri kreatif di Yogyakarta. Topik yang diangkat pada Aditif Forum kali ini adalah mengukur potensi produk dan layanan dari perusahaan yang bergerak di bidak teknologi informasi, menggali masukan dari pelauk industri digital, menyusun konsep pengembangan kawasan industri digital terpadu di Yogyakarta.

Kegiatan malam itu dibuka dengan penawaran dari pihak Sahid Jwalk mengenai Sahid Jwalk menjadi sebuah pusat perkantoran untuk perusahaan-perusahaan yang berbasis teknologi informasi di Yogyakarta dengan segala kelebihannya. Kemudian disusul dengan pemaparan topik diskusi oleh pihak Aditif bahwa Yogyakarta memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi Silicon Valley-nya Indonesia. Potensi itu ada dimulai dengan adanya pembangunan New Yogyakarta Internasional Airport, Yogyakarta sebagai pusat talent dari orang-orang yang akan bekerja di dunia digital karena memiliki banyak universitas, dan juga infrastruktur lain yang cukup mendukung Yogyakarta untuk berkembang ke arah tersebut. secara singkat yaitu bagaimana ekosistem startup di Yogyakarta mampu memanfaat sumber daya manusia, budaya, dan infrastruktur yang ada untuk membangun Yogyakarta menjadi pusat Industri digital di Indonesia.

Arif Hidayat, kepala dari Badan Kerjadama dan Penanaman Modal provinsi D.I. Yogyakarta juga turut mengamini mimpi dari pelaku industri digital kreatif  di Yogyakarta. Arif Hidayat menerangkan bahwa ” Memiliki mimpi yang sama itu penting, tetapi lebih penting memiliki cara untuk mewujudkan mimpi tersebut”. didalam pemaparannya Arif Hidayat bertutur bahwa pelaku industri digital di Yogyakarta harus mampu mencari target yang potensial dan mampu masuk ke dalam supply chain  tersebut terutama yang berpotensi menjadi produk internasional. Selain itu dipaparkan pula cara untuk mencapainya, antara lain, pelaku industri digital harus mampu mendefinisikan area tempat mereka memiliki kelebihan, pembeda dari daerah lain, dan bagaimana meningkatkan investasi dan kolaborasi untuk menghasilkan sumber daya yang mampu menghasilkan.

Risma Fattahatin yang hadir pada malam itu sebagai perwakilan dari Kemenperin RI memaparkan program dari Kemenperin RI untuk mendorong berkembangnya potensi Industri Digital di Indonesia. Pemerintah memiliki program Making Indonesia 4.0, dimana pemerintah menyatakan bahwa Indonesia harus sudah siap menghadapi revolusi industri ke empat yang berbasis digital ini. Risma Fattahatin juga mempromosikan kompetisi startup bagi pelaku industri digital di Indonesia.

Pada Forum malam itu juga banyak diskusi mengenai talent yang ada di Yogyakarta, mengenai peraturan perundang-undangan yang belum mendukung industri digital lokal dan juga bagaimana menghadapi potensi perusahaan luar yang jauh lebih besar dibanding perusahaan teknologi lokal.

Monthly ADITIF Startup Nite 02: How to Acquire, Keep, and Scale up your startup

Untuk kedua kalinya, Diskusi bulanan ADITIF pada hari Kamis (4/5) dilaksanakan. Bertempat di Domestik Coffee and Eatery, diskusi malam itu dihadiri kurang lebih dua puluh orang yang merupakan perwakilan dari startup anggota ADITIF. Kegiatan ini merupakan sarana bagi para anggota ADITIF berkumpul dan mendiskusikan berbagai hal berkaitan dengan startup.

Diskusi malam itu secara khusus membahas bagaimana memperoleh, mempertahankan, dan membesarkan bisnis sebuah startup. Pada malam itu, Rizqinofa Putra M. founder dari Skyshi.com hadir sebagai pembicara untuk memberi materi sekaligus sharing pengalaman-pengalaman yang dimilikinya dalam membangun startup.

Scale up atau membesarkan sebuah bisnis setelah sebuah startup berhasil mencapai pangsa pasar yang cukup adalah tantangan paling besar bagi seorang pengusaha. Dalam uraiannya, ada jurang pemisah yang besar yang harus bisa dilampaui oleh sebuah startup untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi yang tidak jarang menjegal startup untuk berkembang. Dari data yang ada 74% startup di Silicon Valley gagal berkembang akibat tidak bisa melewati fase ini.

Pada Diskusi hari itu, Rizqi mengemukakan bahwa permasalahan sebuah startup untuk scale up bukan hanya dari sisi teknologi saja melainkan juga permasalahan bisnis, karena pada dasarnya tujuan dibangunnya sebuah startup adalah bisnis. Maka, dalam mengembangkan sebuah startup menjadi lebih besar perlu memperhatikan model bisnis apa yang sesungguhnya startup itu geluti dan juga visi yang dimiliki startup itu sendiri.

Untuk memperolehnya, tantangan-tantangan yang biasa dihadapi oleh startup untuk scale up adalah pertumbuhan pasar yang sangat besar sehingga sebuah startup sulit untuk mengelola pasar yang ada, dan menjaga pasar dan pertumbuhan yang sudah diraih oleh startup tersebut. Cara Skyshi untuk bisa scale up antara lain adalah dengan membangun visi perusahaan, membangun sistem yang baik di perusahaan, membangun budaya perusahaan, merekrut orang yang tepat di bidangnya. Hal-hal tersebut membantu sebuah startup agar tetap berjalan searah dengan keinginan founder dalam membangun startup yang didirikannya, sehingga saat proses scale up sebuah startup tidak kehilangan “jati diri”-nya.

Dalam kegiatan diskusi malam itu pula, banyak sharing terjadi antar anggota ADITIF mengenai pengalaman mereka pada startup masing-masing dan bagaimana menyelesaikan masalah yang mereka hadapi terutama dalam hal scale up.

Memberdayakan Perempuan di Era Digital : Kartini in Digital Industri

Berbeda dari biasanya, talk show bersama para founder start-up pada hari Kamis (19/4/2018) lebih semarak, lebih dari separuh peserta yang hadir adalah perempuan. Sekitar lebih dari 50 peserta hadir dalam acara bertemakan Kartini in Digital Industry yang diadakan oleh Developer Cirles Yogyakarta from facebook. Talk show pada hari tersebut memang spesial diadakan untuk memperingati sosok R.A. Kartini yang merupakan sosok pahlawan yang memperjuangkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan terutama di bidang pendidikan, sekaligus sebagai wujud apresiasi atas peran perempuan di dunia digital saat ini.

Para pembicara yang hadir pada hari itu juga tak kalah spesial. Mereka adalah para tokoh start-up yang kesemuanya perempuan. Ada tiga perempuan hebat yang hadir sebagai pembicara pada malam itu.  Sosok perempuan yang pertama adalah Istofani Api Diani, CEO sekaligus Founder dari fitinline.com, sebuah web dengan konsep clothing hub yang memiliki tujuan sebagai sarana bagi konsumen untuk mencari info produk serta layanan terkait clothing. Kedua, Mariana Ros Afianti yang merupakan Co-founder dari jejualan.com, sebuah web jasa pembuatan toko online. Sosok yang terakhir adalah Yuki Ohata, seorang perempuan Jepang yang merupakan CEO dan founder dari jpassport.asia, situs rekomendasi servis dan produk premium Jepang di Singapura.

 

 

Dalam kegiatan ini ketiga pembicara memaparkan pemikiran-pemikiran mereka atas peran perempuan di dunia digital saat ini. Para pembicara masih melihat masih besar kesenjangan peran antara perempuan dan laki-laki, terutama dari jumlah figur yang terlibat di dunia digital. Para pembicara juga mengajak para perempuan untuk mau terjun langsung berkarir di dunia digital, jangan ragu untuk mencoba untuk berkarir di dunia digital karena sangat  banyak kesempatan dan bidang yang bisa di eksplorasi agar bisa sukses di dunia digital. Perempuan memiliki kebebasan untuk bisa bermimpi dan menentukan hidupnya.

Diharapkan kegiatan ini mampu menginspirasi para perempuan untuk mau terlibat dalam pengembangan dunia digital di Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Sehingga, cita-cita dari R.A. Kartini dalam memperjuangkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dapat berjalan bersamaan dengan perkembangan dunia digital yang terus berubah.

Talk show Kartini in Digital Industry diadakan pada Kamis, 19 April 2018 di Jogja Digital Valley

Meet up Komunitas Kreatif Jogja bersama Mari Elka Pangestu

Senin, 16 April 2018. jam 15.48

Kegiatan diskusi antar komunitas kreatif di Yogyakarta bersama menteri pariwisata dan ekonomi kreatif periode 2010-2014 dan juga board of advisor ISD yang bertajuk “Meet up Komunitas Kreatif Jogja bersama Mari Elka Pangestu”, merupakan kegiatan diskusi terbuka bagi komunitas-komunitas yang bergerak dibidang ekonomi kreatif di Yogyakarta. sekitar 30 perwakilan Industri kreatif Yogyakarta yang bergerak di bidang periklanan, animasi, game developer, handicraft dan lain-lain turut hadir dalam kegiatan ini. Selain itu kegiatan ini dihadiri pula oleh perwakilan dari Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian, Ibu Netty Muharni.

Kegiatan ini di inisiasi oleh Asosisasi Digital Kreatif Indonesia (Aditif) bersama dengan Indonesia Services Dialogue Council (ISD). Diskusi ini bertujuan sebagai ajang menyampaikan aspirasi dari para anggota komunitas yang hadir di kegiatan diskusi kepada Ibu Mari Elka Pangestu. Walaupun sudah tidak menjabat lagi sebagai menteri pariwisata dan ekonomi kreatif,  beliau masih peduli serta aktif dengan perkembangan industri ekonomi kreatif di Indonesia.

Diskusi yang dilaksanakan di Jogja Digital Valley berjalan selama kurang lebih satu setengah jam dimulai pukul 15.00-16.30 WIB tesebut berjalan menarik dan interaktif. Kegiatan yang dirancang memang tidak resmi sehingga terkesan cair dan santai. Banyak isu-isu hangat berkaitan dengan industri digital kreatif disampaikan dari para anggota komunitas kepada Ibu Mari Elka Pangestu mulai dari isu paten sampai dengan sumber daya manusia (SDM). Secara umum tujuan dari kegiatan diskusi ini  tercapai. Ibu Marie Elka Pangestu banyak memberikan masukan dan berjanji untuk membantu permasalahan yang dihadapi pihak-pihak yang bergerak di Industri kreatif di Yogyakarta.

Dalam kegiatan diskusi itu pula Ibu Mari Elka pangestu melontarkan pujian bagi para pegiat industri kreatif di Yogyakarta. Beliau menganggap Yogyakarta merupakan salah satu kota kreatif terlengkap di Indonesia baik secara jumlah Industri kreatif, para pegiatnya, maupun ekosistem yang hidup sehingga mampu menunjang pertumbuhan industri kreatif di Indonesia.

Meet up Komunitas Kreatif Jogja bersama Mari Elka Pangestu diadakan pada Rabu, 11 April 2018.

 

ADITIF Bersama Dinas Komunikasi dan Informatika Daerah Istimewa Yogyakarta Melakukan Kajian Industri Digital Kreatif di Yogyakarta

Industri digital kreatif di Yogyakarta menunjukkan perkembangan yang cukup progresif. Yogyakarta sejak beberapa tahun belakangan ini mulai dilirik menjadi tempat untuk menjalan bisnis kreatif berbasis digital. ADITIF sebagai wadah pelaku industri digital kreatif terus melakukan upaya untuk membangun dan mengembangkan ekosistem industri digital kreatif di Indonesia.

Kali ini, ADITIF bersama Diskominfo DIY mengajak Anda sebagai pelaku industri kreatif digital di Yogyakarta untuk berpartisipasi dalam Kajian Industri Kreatif Digital Yogyakarta 2017.Survei ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi industri kreatif digital di Yogyakarta, permasalahan-permasalahan utama yang dihadapi pelaku industri kreatif digital, dan  menghasilkan usulan dan rekomendasi untuk Pemerintah DIY dalam menyusun kebijakan di masa depan.

Hasil dari survei dan kajian ini, selain akan dirangkum dan diusulkan kepada Pemerintah DIY, juga akan dibagikan kepada teman-teman pelaku industri digital kreatif yang berpartisipasi mengisi survei ini, silakan klik http://aditif.id/survey/

Mari Bersuara, Mari Berpendapat, untuk industri digital kreatif Yogyakarta yang lebih baik!

Untuk informasi lebih lanjut mengenai survei ini bisa menghubungi:

info@aditif.id atau +62-8777-5030-515 (Anggit)

BIZTALK #7: Disrupting Current Media Operation with HIPWEE

photo943066130215447312

Bisnis media saat ini memiliki persaingan yang sangat ketat. Ada dua pilihan dalam memenangkan persaingan media pada saat ini, antara lain menjadi yang pertama dalam memberikan informasi dan menjadi “beda” diantara media yang lainnya. HIPWEE sebagai media yang digemari anak muda pada saat ini memilih untuk menjadi media yang berbeda, dan memiliki segmen tersendiri.

Nendra Rengganis, atau yang lebih dikenal dengan Monik (Co-Founder HIPWEE), menerangkan bahwa persaingan bisnis media pada saat ini sangat ketat, dan mau tidak mau harus merubah bisnis model yang ada. Jika beberapa waktu yang lalu media mendapatkan revenue dari jumlah pembaca dan pemasang iklan, kini model tersebut tidak dapat lagi diterapkan. Saat ini, beberapa media kebanyakan telah membuka peluang menjadi outsource untuk media lainnya, branding partner, atau menjadi event organizer. Selain itu, untuk media yang bermain di lingkup korporat, mereka akan banyak membuka layanan untuk employee & corporate branding, yaitu menuliskan hal-hal baik tentang perusahaan kepada masyarakat dengan tujuan menaikkan reputasi. Di HIPWEE sendiri, kedepannya nanti akan menjadi sebuah brand, yang bukan mengerjakan sebuah media.

Tantangan lain untuk masalah persaingan media saat ini adalah masalah karir. Karir di media saat ini belum bisa memiliki jenjang horizontal seperti di perusahaan lainnya. Sebagai contoh, awal dari karir di media adalah Content Writer atau Writer, kemudian menjadi junior writter, lalu senior writter. Untuk editor sendiri memiliki pekerjaan yang berbeda dengan writter, karena pekerjaan editor adalah mengedit kelayakan berita, sedangkan writter adalah penulis yang memiliki idea. Ini yang mungkin menjadi kendala media pada saat ini untuk menjaga performa dan sumber daya manusia yang ada. Karena keberhasilan media pada umumnya lebih pada pengembangan brand media itu sendiri, bukan jenjang karir di dalamnya. Mungkin suatu saat nanti siapa tahu writer HIPWEE jadi seperti writer untuk New York Times, yang akan banyak dikenal orang di seluruh dunia.

Sebagai penutup, Monik berpesan kepada para peserta yang tertarik menggeluti bisnis media. Media online yang sehat adalah media yang bisa bilang “nanti” untuk memuat suatu berita, dimana mereka akan berpikir dulu untuk mencari angel yang tepat, dan menjadi anti mainstreem di tengah pemberitaan yang banyak dikeluarkan media lain. Ini juga diimbangi dengan waktu yang tepat agar pemberitaannya tidak terlalu basi untuk ditayangkan. Selain itu media juga harusnya berhati-hati karena merekalah yang mengisi pikiran banyak orang. Jika tidak berhati-hati media akan menjerumuskan banyak orang, karena media bisa menjadikan orang percaya akan suatu berita.

BIZTALK 7 diadakan pada 11 Januari 2017 di Jogja Digital Valley