Monthly ADITIF Startup Nite 02: How to Acquire, Keep, and Scale up your startup

Untuk kedua kalinya, Diskusi bulanan ADITIF pada hari Kamis (4/5) dilaksanakan. Bertempat di Domestik Coffee and Eatery, diskusi malam itu dihadiri kurang lebih dua puluh orang yang merupakan perwakilan dari startup anggota ADITIF. Kegiatan ini merupakan sarana bagi para anggota ADITIF berkumpul dan mendiskusikan berbagai hal berkaitan dengan startup.

Diskusi malam itu secara khusus membahas bagaimana memperoleh, mempertahankan, dan membesarkan bisnis sebuah startup. Pada malam itu, Rizqinofa Putra M. founder dari Skyshi.com hadir sebagai pembicara untuk memberi materi sekaligus sharing pengalaman-pengalaman yang dimilikinya dalam membangun startup.

Scale up atau membesarkan sebuah bisnis setelah sebuah startup berhasil mencapai pangsa pasar yang cukup adalah tantangan paling besar bagi seorang pengusaha. Dalam uraiannya, ada jurang pemisah yang besar yang harus bisa dilampaui oleh sebuah startup untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi yang tidak jarang menjegal startup untuk berkembang. Dari data yang ada 74% startup di Silicon Valley gagal berkembang akibat tidak bisa melewati fase ini.

Pada Diskusi hari itu, Rizqi mengemukakan bahwa permasalahan sebuah startup untuk scale up bukan hanya dari sisi teknologi saja melainkan juga permasalahan bisnis, karena pada dasarnya tujuan dibangunnya sebuah startup adalah bisnis. Maka, dalam mengembangkan sebuah startup menjadi lebih besar perlu memperhatikan model bisnis apa yang sesungguhnya startup itu geluti dan juga visi yang dimiliki startup itu sendiri.

Untuk memperolehnya, tantangan-tantangan yang biasa dihadapi oleh startup untuk scale up adalah pertumbuhan pasar yang sangat besar sehingga sebuah startup sulit untuk mengelola pasar yang ada, dan menjaga pasar dan pertumbuhan yang sudah diraih oleh startup tersebut. Cara Skyshi untuk bisa scale up antara lain adalah dengan membangun visi perusahaan, membangun sistem yang baik di perusahaan, membangun budaya perusahaan, merekrut orang yang tepat di bidangnya. Hal-hal tersebut membantu sebuah startup agar tetap berjalan searah dengan keinginan founder dalam membangun startup yang didirikannya, sehingga saat proses scale up sebuah startup tidak kehilangan “jati diri”-nya.

Dalam kegiatan diskusi malam itu pula, banyak sharing terjadi antar anggota ADITIF mengenai pengalaman mereka pada startup masing-masing dan bagaimana menyelesaikan masalah yang mereka hadapi terutama dalam hal scale up.

Memberdayakan Perempuan di Era Digital : Kartini in Digital Industri

Berbeda dari biasanya, talk show bersama para founder start-up pada hari Kamis (19/4/2018) lebih semarak, lebih dari separuh peserta yang hadir adalah perempuan. Sekitar lebih dari 50 peserta hadir dalam acara bertemakan Kartini in Digital Industry yang diadakan oleh Developer Cirles Yogyakarta from facebook. Talk show pada hari tersebut memang spesial diadakan untuk memperingati sosok R.A. Kartini yang merupakan sosok pahlawan yang memperjuangkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan terutama di bidang pendidikan, sekaligus sebagai wujud apresiasi atas peran perempuan di dunia digital saat ini.

Para pembicara yang hadir pada hari itu juga tak kalah spesial. Mereka adalah para tokoh start-up yang kesemuanya perempuan. Ada tiga perempuan hebat yang hadir sebagai pembicara pada malam itu.  Sosok perempuan yang pertama adalah Istofani Api Diani, CEO sekaligus Founder dari fitinline.com, sebuah web dengan konsep clothing hub yang memiliki tujuan sebagai sarana bagi konsumen untuk mencari info produk serta layanan terkait clothing. Kedua, Mariana Ros Afianti yang merupakan Co-founder dari jejualan.com, sebuah web jasa pembuatan toko online. Sosok yang terakhir adalah Yuki Ohata, seorang perempuan Jepang yang merupakan CEO dan founder dari jpassport.asia, situs rekomendasi servis dan produk premium Jepang di Singapura.

 

 

Dalam kegiatan ini ketiga pembicara memaparkan pemikiran-pemikiran mereka atas peran perempuan di dunia digital saat ini. Para pembicara masih melihat masih besar kesenjangan peran antara perempuan dan laki-laki, terutama dari jumlah figur yang terlibat di dunia digital. Para pembicara juga mengajak para perempuan untuk mau terjun langsung berkarir di dunia digital, jangan ragu untuk mencoba untuk berkarir di dunia digital karena sangat  banyak kesempatan dan bidang yang bisa di eksplorasi agar bisa sukses di dunia digital. Perempuan memiliki kebebasan untuk bisa bermimpi dan menentukan hidupnya.

Diharapkan kegiatan ini mampu menginspirasi para perempuan untuk mau terlibat dalam pengembangan dunia digital di Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Sehingga, cita-cita dari R.A. Kartini dalam memperjuangkan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dapat berjalan bersamaan dengan perkembangan dunia digital yang terus berubah.

Talk show Kartini in Digital Industry diadakan pada Kamis, 19 April 2018 di Jogja Digital Valley

Meet up Komunitas Kreatif Jogja bersama Mari Elka Pangestu

Senin, 16 April 2018. jam 15.48

Kegiatan diskusi antar komunitas kreatif di Yogyakarta bersama menteri pariwisata dan ekonomi kreatif periode 2010-2014 dan juga board of advisor ISD yang bertajuk “Meet up Komunitas Kreatif Jogja bersama Mari Elka Pangestu”, merupakan kegiatan diskusi terbuka bagi komunitas-komunitas yang bergerak dibidang ekonomi kreatif di Yogyakarta. sekitar 30 perwakilan Industri kreatif Yogyakarta yang bergerak di bidang periklanan, animasi, game developer, handicraft dan lain-lain turut hadir dalam kegiatan ini. Selain itu kegiatan ini dihadiri pula oleh perwakilan dari Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian, Ibu Netty Muharni.

Kegiatan ini di inisiasi oleh Asosisasi Digital Kreatif Indonesia (Aditif) bersama dengan Indonesia Services Dialogue Council (ISD). Diskusi ini bertujuan sebagai ajang menyampaikan aspirasi dari para anggota komunitas yang hadir di kegiatan diskusi kepada Ibu Mari Elka Pangestu. Walaupun sudah tidak menjabat lagi sebagai menteri pariwisata dan ekonomi kreatif,  beliau masih peduli serta aktif dengan perkembangan industri ekonomi kreatif di Indonesia.

Diskusi yang dilaksanakan di Jogja Digital Valley berjalan selama kurang lebih satu setengah jam dimulai pukul 15.00-16.30 WIB tesebut berjalan menarik dan interaktif. Kegiatan yang dirancang memang tidak resmi sehingga terkesan cair dan santai. Banyak isu-isu hangat berkaitan dengan industri digital kreatif disampaikan dari para anggota komunitas kepada Ibu Mari Elka Pangestu mulai dari isu paten sampai dengan sumber daya manusia (SDM). Secara umum tujuan dari kegiatan diskusi ini  tercapai. Ibu Marie Elka Pangestu banyak memberikan masukan dan berjanji untuk membantu permasalahan yang dihadapi pihak-pihak yang bergerak di Industri kreatif di Yogyakarta.

Dalam kegiatan diskusi itu pula Ibu Mari Elka pangestu melontarkan pujian bagi para pegiat industri kreatif di Yogyakarta. Beliau menganggap Yogyakarta merupakan salah satu kota kreatif terlengkap di Indonesia baik secara jumlah Industri kreatif, para pegiatnya, maupun ekosistem yang hidup sehingga mampu menunjang pertumbuhan industri kreatif di Indonesia.

Meet up Komunitas Kreatif Jogja bersama Mari Elka Pangestu diadakan pada Rabu, 11 April 2018.

 

ADITIF Bersama Dinas Komunikasi dan Informatika Daerah Istimewa Yogyakarta Melakukan Kajian Industri Digital Kreatif di Yogyakarta

Industri digital kreatif di Yogyakarta menunjukkan perkembangan yang cukup progresif. Yogyakarta sejak beberapa tahun belakangan ini mulai dilirik menjadi tempat untuk menjalan bisnis kreatif berbasis digital. ADITIF sebagai wadah pelaku industri digital kreatif terus melakukan upaya untuk membangun dan mengembangkan ekosistem industri digital kreatif di Indonesia.

Kali ini, ADITIF bersama Diskominfo DIY mengajak Anda sebagai pelaku industri kreatif digital di Yogyakarta untuk berpartisipasi dalam Kajian Industri Kreatif Digital Yogyakarta 2017.Survei ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi industri kreatif digital di Yogyakarta, permasalahan-permasalahan utama yang dihadapi pelaku industri kreatif digital, dan  menghasilkan usulan dan rekomendasi untuk Pemerintah DIY dalam menyusun kebijakan di masa depan.

Hasil dari survei dan kajian ini, selain akan dirangkum dan diusulkan kepada Pemerintah DIY, juga akan dibagikan kepada teman-teman pelaku industri digital kreatif yang berpartisipasi mengisi survei ini, silakan klik http://aditif.id/survey/

Mari Bersuara, Mari Berpendapat, untuk industri digital kreatif Yogyakarta yang lebih baik!

Untuk informasi lebih lanjut mengenai survei ini bisa menghubungi:

info@aditif.id atau +62-8777-5030-515 (Anggit)

BIZTALK #7: Disrupting Current Media Operation with HIPWEE

photo943066130215447312

Bisnis media saat ini memiliki persaingan yang sangat ketat. Ada dua pilihan dalam memenangkan persaingan media pada saat ini, antara lain menjadi yang pertama dalam memberikan informasi dan menjadi “beda” diantara media yang lainnya. HIPWEE sebagai media yang digemari anak muda pada saat ini memilih untuk menjadi media yang berbeda, dan memiliki segmen tersendiri.

Nendra Rengganis, atau yang lebih dikenal dengan Monik (Co-Founder HIPWEE), menerangkan bahwa persaingan bisnis media pada saat ini sangat ketat, dan mau tidak mau harus merubah bisnis model yang ada. Jika beberapa waktu yang lalu media mendapatkan revenue dari jumlah pembaca dan pemasang iklan, kini model tersebut tidak dapat lagi diterapkan. Saat ini, beberapa media kebanyakan telah membuka peluang menjadi outsource untuk media lainnya, branding partner, atau menjadi event organizer. Selain itu, untuk media yang bermain di lingkup korporat, mereka akan banyak membuka layanan untuk employee & corporate branding, yaitu menuliskan hal-hal baik tentang perusahaan kepada masyarakat dengan tujuan menaikkan reputasi. Di HIPWEE sendiri, kedepannya nanti akan menjadi sebuah brand, yang bukan mengerjakan sebuah media.

Tantangan lain untuk masalah persaingan media saat ini adalah masalah karir. Karir di media saat ini belum bisa memiliki jenjang horizontal seperti di perusahaan lainnya. Sebagai contoh, awal dari karir di media adalah Content Writer atau Writer, kemudian menjadi junior writter, lalu senior writter. Untuk editor sendiri memiliki pekerjaan yang berbeda dengan writter, karena pekerjaan editor adalah mengedit kelayakan berita, sedangkan writter adalah penulis yang memiliki idea. Ini yang mungkin menjadi kendala media pada saat ini untuk menjaga performa dan sumber daya manusia yang ada. Karena keberhasilan media pada umumnya lebih pada pengembangan brand media itu sendiri, bukan jenjang karir di dalamnya. Mungkin suatu saat nanti siapa tahu writer HIPWEE jadi seperti writer untuk New York Times, yang akan banyak dikenal orang di seluruh dunia.

Sebagai penutup, Monik berpesan kepada para peserta yang tertarik menggeluti bisnis media. Media online yang sehat adalah media yang bisa bilang “nanti” untuk memuat suatu berita, dimana mereka akan berpikir dulu untuk mencari angel yang tepat, dan menjadi anti mainstreem di tengah pemberitaan yang banyak dikeluarkan media lain. Ini juga diimbangi dengan waktu yang tepat agar pemberitaannya tidak terlalu basi untuk ditayangkan. Selain itu media juga harusnya berhati-hati karena merekalah yang mengisi pikiran banyak orang. Jika tidak berhati-hati media akan menjerumuskan banyak orang, karena media bisa menjadikan orang percaya akan suatu berita.

BIZTALK 7 diadakan pada 11 Januari 2017 di Jogja Digital Valley

BIZTALK #6: Digital Start-Up Business Outlook 2016

P_20161213_193433

Berbicara mengenai bisnis digital 2017 adalah hal yang sangat menarik. Banyak resolusi yang perlu dipersiapkan di tahun mendatang untuk lebih kompetitif. Pada Selasa (13/12) lalu, Larry Chua (Co-founder Caption Hospitality) dan Riyeke Ustadiyanto (Founder iPaymu), dalam BIZTALK 6 di Jogja Digital Valley, berbagi mengenai pandangan mereka untuk bisnis digital di tahun 2017.

Bertolak dari tahun 2016 lalu, banyak hal menarik yang terjadi di dunia digital start-up. Misalnya saja Lazada yang diakuisisi oleh Alibaba, dimana sebelumnya Lazada mengakuisisi Redmart. Dengan demikian Alibaba menjadi raksasa marketplace di dunia. Selain itu ada juga beberapa start-up dunia yang telah menutup layanan seperti: Ensogo / iBuy Group, Rakuten, dan FoodPanda Indonesia. Ada juga beberapa start-up yang telah menjadi hype seperti  Airy Rooms dan Nida Rooms untuk Manajemen Hotel, GoPay dan AliPay untuk Fintech, YesBoss sebagai Magic Clone Apps, dan PokemonGo sebagai game paling viral di tahun 2016.

Lalu bagaimana di tahun 2017 ini? Menurut Larry, start-up yang akan bersinar adalah start-up yang menolong bisnis tradisional. Selain itu bisnis O2O dan fintech juga akan marak di tahun depan.  Mengenai ekonomi sendiri, memang di tahun 2017 akan banyak bergejolak, khususnya ekonomi dunia. Pergantian Trump menjadi presiden AS, masih menjadi pertanyaan mengenai kebijakan ekonomi kedepannya, yang juga akan berpengaruh pada investasi.

Bagaimana dengan Teknologi?

Riyeke Ustadiyanto, memiliki beberapa pandangan mengenai teknologi yang akan menjadi jawara di tahun 2017. Salah satunya adalah artificial intelligence. Tahun depan, pola masyarakat dalam berbelanja dan menggunakan layanan akan banyak berubah. Pada umumnya, masyarakat sudah “malas” untuk mendownload atau membuka website, dan mereka lebih memilih untuk langsung chatting to busines /seller. Hal ini sudah banyak yang merintis, diantaranya Salestock Indonesia dan Kata.ai – Yesboss.

Selain itu, tren teknologi yang akan muncul adalah agregator. Sekarang sudah sangat sulit untuk membuat sesuatu yang dirintis dari awal, namun berbasis end to end ke pelanggan. Kecuali kita sangat yakin untuk memenangkan persaingan bisnis, yang mana probabilitas kegagalannya hingga 90%. Oleh karena itu bisnis dengan teknologi agregator akan sangat banyak dilirik oleh para pelaku bisnis.

Investasi untuk Start-Up

Investasi dari modal ventura memang sangat dinantikan oleh para pelaku start-up. Ada dua pandangan yang berbeda mengenai investasi di tahun 2017 ini. Menurut Larry, akan ada pergeseran arah investasi, dimana para investor dunia akan mulai melirik Asia Tenggara. Dengan demikian, akan banyak peluang untuk mendapatkan investasi baru. Di sisi lain, menurut Riyeke, di tahun 2017 ini jangan terlalu berharap untuk mendapatkan investasi yang menjanjikan. Persaingan modal ventura yang ketat, membuat mereka berlomba untuk mencari start-up, sehingga tidak terlalu fokus pada pertumbuhan bisnis start-up tersebut. “Untuk pendanaan 300 juta – 500 juta, mungkin bisa lah ya untuk didapatkan,” ujar Riyeke.

Kesimpulan mengenai acara BIZTALK ini adalah janganlah kita, para pelaku start-up, menangkap tren untuk berbisnis karena setiap tahunnya tren tersebut berubah. Namun kita harus dapat berselancar diatas tren yang ada, sehingga tetap survive dalam berbisnis.

BIZTALK #5: Banking for Start-Up with PermataBank

15137471_1367385749952068_5622316508321582468_o

Akses perbankan merupakan salah satu permasalahan yang dihadapi oleh para pelaku start-up. Akses tersebut dapat berupa permodalan, maupun layanan perbankan lainnya seperti pembukaan akun maupun pinjaman personal.

Banyak teknologi dan layanan yang ditawarkan perbankan pada saat ini, namun belum banyak dimanfaatkan oleh para pelaku start-up. Misalnya saja layanan virtual account. Sofyan Ahmad, Virtual Acount Senior Manager, mengemukakan bahwa kondisi pada saat ini adalah para pelaku digital start-up masih bergantung pada layanan manual bank transfer, dan harus melakukan pengecekan rekening berulang. Ada juga yang meng-coding ulang sistem, sehingga mutasi transfer bank bisa terbaca oleh sistem. Padahal ini cukup membuang waktu yang harusnya bisa dialokasikan pada pengerjaan tugas yang lain. Sistem digit unik juga menjadi perhatian para pelaku startup bisnis, yang mana pengembangan teknologi di masa mendatang sudah tidak relevan.

Pembahasan lainnya mengenai akses perbankan untuk start-up. Pada dasarnya, pelaku bisnis digital tidak perlu langsung membuka rekening korporat ketika pertama kali beroperasi. Mereka dapat menggunakan akun personal, yang lebih murah dan lebih dapat dipenuhi untuk bertransaksi. Akun personal ini juga nantinya dapat digunakan untuk personal loan dan investasi, apabila kebutuhan dari angels dan investor belum terpenuhi. “Biasanya para pelaku start-up ini takut untuk datang dan bertanya ke bank, namun sekarang banyak informasi yang didapatkan di internet, bahkan mereka bisa dapat membuka akun bank melalui apps” ujar Agus Susanto selaku Head Area Permata Bank Yogyakarta.

Materi lain mengenai teknologi digital payment, disampaikan oleh Aldion Sianturi, Marcom Manager Faspay. Pada dasarnya, payment gateway ada untuk mempermudah para pelaku start-up untuk melakukan transaksi yang lebih aman dan cepat. Pola pelanggan yang berubah, membuat pihak payment gateway terus berinovasi agar dapat cepat beradaptasi dengan kebutuhan pelanggan maupun pihak bisnis.

Acara yang dihadiri oleh 30 orang ini berlangsung meriah. Di akhir acara, tim Permata Bank membagikan hadiah beberapa gadget kepada peserta yang memenangkan tantangan pada saat event berlangsung. Acara ini merupakan kerjasama antara Jogja Digital Valley, ADITIF, dan Bank Permata.

BIZTALK #5: Banking for Start-Up diadakan pada 18 November 2016 di Jogja Digital Valley

BIZTALK #4: Building Start-Up Brand with Good PR

5c7a21b9-07af-4900-8303-2328ce1bf050-1-768x576

Beberapa start-up, pada umumnya tidak memiliki bagian public relation di tahun pertama beroperasi. Di lain sisi, peran kehumasan ini sangatlah penting untuk menciptakan kesan baik di hadapan masyarakat ketika start-up tersebut diluncurkan. Ini yang menuntut para founder dan co-founder pelaku bisnis rintisan harus dapat berkreasi agar dapat mengambil hati masyarakat luas, untuk dapat mengenal dan menggunakan produknya.

Untuk itu, BIZTALK yang diadakan oleh ADITIF di JDV kali ini mengambil tema “Building Start-Up Brand through Good PR” dengan pembicara Andreas Simorangkir dari PRecious Communication.

Hal tersebut disampaikan oleh Andreas Simorangkir, Senior Strategy Manager Digital Channel, PRecious Communication dalam “BIZTALK: Building Start-up Brand through Good PR”, Jumat 28 Oktober 2016 lalu. PRecious Communication merupakan konsultan public relation ternama di Singapura, yang sudah berpengalaman untuk menangani start-up besar baik di Singapura maupun negara-negara Asia Tenggara lainnya.

“Inti dari membangun brand adalah kreatifitas yang orisinil. Dan kreatifitas tersebut, tidak akan terkonversi menjadi sebuah brand publicity tanpa adanya eksekusi yang baik. Oleh karena itu, start-up harus mempersiapkan dengan perencanaan yang matang, agar dapat meraih atensi masyarakat, khususnya segmen penggunanya.” ujar Adreas. Beberapa start-upterkadang tidak mempersiapkan ini, sehingga ketika sudah launch, tidak banyak mendapatkan atensi para pelanggan, dan berakhir dengan kegagalan.

Tidak hanya ketika launching, start-up juga harus memperhatikan brand mereka ketika operasional sedang berjalan. Apabila salah langkah, reputasi brand mereka mendapatkan sentimen negatif dari masyarakat, yang akan berpengaruh terhadap penjualan. Kasus ini juga banyak ditemui oleh perusahaan yang pada umumnya sudah matang dan malas berkreasi, sehingga banyak meng-copy ide iklan dari luar. Bukan menjadi hal yang menarik pelanggan, menduplikasi ide iklan dan menggantinya dengan brand mereka, menjadikan bisnis mendapatkan sentimen negatif dari masyarakat.

Personal brand dari founder dan co-founder juga menjadi hal yang substansial bagi para pelaku bisnis start-up. Hal ini menyangkut pada kepercayaan pengguna, baik dari investor maupun pelanggan. Sentimen brand bisa menjadi negatif apabila pimpinan atau founder dari perusahaannya melakukan hal yang dinilai negatif oleh masyarakat. Terlebih budaya yang ada di Indonesia, dimana word of mouth masih menjadi jawara dalam membangun brand dan publisitas. Hal ini juga perlu diperhatikan oleh para pelaku bisnis.

Acara yang dihadiri oleh 40 orang founder dan co-founder digital start-up business dari Yogyakarta dan Surakarta ini berlangsung meriah. Beberapa start-up seperti Mamikos, JAKPAT, Chalkboard, Sepetak, dan SatuLoket, turut memeriahkan acara ini. Di akhir acara, PRecious Communication membuka sesi konsultasi untuk para pelaku start-up.

Bimtek BEKRAF Hari Kedua : Paten Merek, Desain Industri, dan Badan Hukum

Hari kedua acara workshop Bimtek Kemahiran Berkontrak Bagi Para Pelaku Ekonomi Kreatif Bidang Digital Kreatif dimulai setelah para peserta selesai sarapan di The Alana Hotel & Convention Center.

cam_0136

cam_0160

Pukul 09.30 acara dimulai dengan Dr.Ir.Robinson Sinaga, S.H, LL.M yang kembali lagi menjadi pembicara melanjutkan materi hari sebelumnya. Masih dengan tema yang sama yaitu tentang Hak Kekayaan Intelektual (HKI), Bapak Robinson kali ini lebih menekankan materinya tentang cara mendaftarkan merek, desain industri, dan juga hak paten produk. Ada hal unik tentang pendaftaran merek menurut beliau,

robinson1

“Sebaiknya merk yang didaftarkan itu ada tiga, yaitu nama merek, logo, serta nama merek yang disertai logo”.

Ditambahkan lagi oleh Bapak Robinson

“Jangan membuat merek yang membingunkan masyarakat, misal saja memodifikasi nama merek yang sudah ada, karena meskipun berhasil mendaftarkan merek tersebut namun nantinya akan membuat masyarakat banyak bingung dengan produk yang mirip”.

cam_0151

Selain itu, dengan memiliki hak cipta atas inovasi yang dihasilkan, para inventor juga akan mendapatkan nilai lebih di mata calon partner atau investor. Dalam pemaparannya, Robinson Sinaga beberapa kali menekankan supaya para inovator untuk segera mendaftarkan temuannya. Hal ini dikarenakan sifat hukumnya adalah first-to-file, yaitu mereka yang terlebih dahulu mencatatkan temuannya adalah yang berhak. Sebelum menuju ke sesi selanjutnya , peserta diajak menyantap makan siang terlebih dahulu.

cam_0154

cam_0156

 

Sesi selanjutnya yang merupakan sesi terakhir dalam workshop hari ini, dimulai setelah para peserta selesai makan sing. Pembicara di sesi terakhir ini adalah Mayang Markamah, S.H., M.Kn yang merupakan Notaris-PPAT di area Kabupaten Sleman,Yogyakarta . Sesi ini para peserta mendapatkan materi bagaimana cara dan syarat apa saja yang dibutuhkan untuk suatu startup atau usaha digital kreatif lainnya memiliki badan hukum tertentu seperti misalnya Perseroan Terbatas (PT). Sesi ini juga menjadi sangat interaktif karena peserta dipersilahkan untuk konsultasi tentang pengurusan PT ini. Di akhir sesi beliau mengatakan,

cam_0173

 

 

“Banyak startup yang belum memiliki badan hukum karena takut dan malas mengurusnya. Jangan takut untuk mengurusnya, karena nantinya itu akan memudahkan usaha anda”.

Di akhir acara, Ketua ADITIF, Saga Iqranegara mengemukakan gagasan diadakannya Bimtek ini.  Karena kurangnya perhatian para pelaku usaha di digital kreatif mengenai masalah legal, diharapkan dengan diselenggarakannya kegiatan Bimtek ini, para pelaku usaha digital kreatif bisa mendapat pemahaman lebih agar bisa dan mau mengurus segala bentuk legal kontrak usahanya. Demikianlah workshop Bimtek Kemahiran Berkontrak Bagi Para Pelaku Ekonomi Kreatif Bidang Digital Kreatif yang dilangsukan selama 2 hari atas kerja sama Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dengan Asosiasi Digital Kreatif (ADITIF).

Antusiasme peserta Bimtek dua hari ini sangat terlihat. Dari survey kepuasan yang dilakukan oleh penyelenggara sebagian peserta merasa puas dan ingin merekomendasikan acara ini kepada rekan-rekannya. Banyak peserta yang mengatakan bahwa Bimtek ini memberi wawasan dan pengetahuan baru tentang legal untuk industri kreatif secara teori dan praktik, dan memperluas jejaring dengan sesama peserta. Dukungan ADITIF dalam acara Bimtek BEKRAF ini adalah wujud komitmen aditif untuk memberi benefit bagi anggotanya.

img-20161018-wa0006

Berikut adalah kesan yang kami tangkap dari peserta acara Bimtek kali ini.

“Sangat bermanfaat , menambah pengetahuan dan semangat para usahawan untuk melegalkan usaha.”

“Acara yang sangat memberikan awareness kepada pelaku startup untuk lebih mengetahui hal-hal apa saja yang harus dipersiapkan untuk melakukan kontrak atau kerjasama dengan pihak lain. Juga ada tentang HKI yang sangat penting untuk melindungi hak intelektual produk para pelaku startup digital.”

Bimtek BEKRAF – ADITIF Hari 1: Tentang Kontrak, Lisensi, Paten dan Hak Kekayaan Intelektual

Hari Pertama : Bimtek Kemahiran Berkontrak Bagi Para Pelaku Ekonomi Kreatif Bidang Digital Kreatif

bekraf-day-1

Selamat datang di BIMTEK BEKRAF – ADITIF

Acara Bimtek Kemahiran Berkontrak Bagi Para Pelaku Ekonomi Kreatif Bidang Digital Kreatif merupakan acara yang diselenggarakan hasil kerja sama Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (BEKRAF) dengan Asosiasi Digital Kreatif (ADITIF). Acara yang berlangsung selama 2 hari selama tanggal 17-18 Oktober 2016 dan bertempat di The Alana Hotel & Convention Center, Yogyakarta ini bertujuan agar para pelaku usaha ekonomi kreatif khususnya di bidang digital kreatif dapat mengetahui mengenai detail tentang pengurusan legal dan hak cipta kekayaan intelektual.

Berlangsung selama 2 hari full day, acara ini terbagi dalam beberapa sesi dengan menghadirkan pembicara ahli di bidang legal kontrak dan hak kekayaan intelektual.

suasana-bimtek-day-1

Suasana Bimtek Hari Pertama, The Alana Hotel & Convention Center, Yogyakarta

Sesi pertama pada Senin 17 Oktober 2016 dimulai dengan pembahasan tentang legal kontrak. Materi dibawakan oleh dosen dari Universitas Trisakti yaitu Anda Setiawati,SH. MH. Pada sesi ini dijelaskan bagaimana pembuatan legal kontrak yang sesuai dengan hukum.

Sesi kedua dilanjutkan dengan pemahaman mengenai Perjanjian Lisensi/Lisensi Agreement  yang dibawakan oleh Rakhmita Desmayanti, SH. MH. dari Universitas Trisakti. Pembahasan sesi ini menjelaskan mengenai izin yang diberikan oleh Pemegang Paten kepada pihak lain berdasarkan perjanjian pemberian hak untuk menikmati manfaat ekonomi dari suatu Paten yang diberikan perlindungan dalam jangka waktu dan syarat tertentu.

sesi-1-aditif

Sesi Pertama dan Kedua dari Pakar Hukum Universitas Trisakti

Setelah sesi kedua, peserta diajak menyantap hidangan makan siang bersama yang telah disajikan oleh Hotel Alana.

photo_2016-10-17_19-17-32

Setelah makan siang, acara dilanjutkan oleh Dr.Ir.Robinson Sinaga, S.H, LL.M selaku Direktur Fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI). Sesi ini cukup menyita pertanyaan banyak peserta karena berhubungan langsung dengan pelaku usaha digital kreatif.

Dr.Ir.Robinson Sinaga, S.H, LL.M ,Direktur Fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) BEKRAF

“Hak cipta tidak melindungi ide, jika ide tidak dieksekusi dan ada yang lebih dahulu mengeksekusi ide tersebut, kita tidak dapat menuntutnya. Jadi segeralah eksekusi ide tersebut” – Dr.Ir.Robinson Sinaga, S.H, LL.M,  Direktur Fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual (HKI)

Sesi terakhir pada hari pertama ini ditutup oleh CEO buatkontrak.com, Rieke Caroline, SH dan Andhika Adam Pradana sebagai advokat dan pakar hukum di bidang legal kontrak. yang lebih mendetail membahas tentang pentingnya kontrak untuk para pelaku usaha ekonomi kreatif digital sebagai landasan hukum utama dan kontrak-kontrak apa saja yang diperlukan untuk UKM/industri kreatif.

Fyi, Mbak Rieke Caroline,SH ini notabene adalah News Anchor kece dari salah satu stasiun televisi ternama lhoh!

sesi-3-aditif

CEO buatkontrak.com, Rieke Caroline, SH ( Kanan) dan Andhika Adam Pradana (Kiri)

“Jangan takut untuk menanyakan detail kontrak anda, karena kontrak ini adalah senjata legalitas anda” – CEO buatkontrak.com

Hari pertama acara Bimtek berlangsung menarik, banyak sekali pertanyaan dari peserta di tiap sesinya sampai sesi tanya-jawabnya selalu kehabisan waktu. Ada banyak hal yang menjadi pengetahuan baru sebagai bekal bagi para pelaku usaha kreatif untuk menjalankan usahanya secara legal sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku di Indonesia.  Berikut kesan para peserta terhadap Bimtek Hari pertama ini :

Memberikan pencerahan bagi usaha di bidang start up digital” Ajeng , Marketing IWAK

Acaranya menarik. Karena menjawab permasalahan legal di start-up saya” Akbar, Satuloket.com

Foto bareng peserta BIMTEK BEKRAF ADITIF

Serunya foto bareng peserta BIMTEK BEKRAF ADITIF di akhir acara

Foto bareng peserta BIMTEK BEKRAF ADITIF

Semangat hari pertama BIMTEK BEKRAF ADITIF!